AGeHa-ku…AGeHa-ku

aslm. (^_^)

nama saya Ratih Sulistianingrum, panggil aja Ratih.

Artikel ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Penerapan Ilmu Komputer. Dasar orangnya emang gaptek, mau ng-aktifin blog aja pake bingung dulu(makasi buat Syahidah yang udah ngebantuin)… haduh, dengan bercucur keringat akhirnya berhasil juga login ke blog (hostpot-nya lagi “agak-agak”…

Sepertinya pembaca memang sudah bisa menebak apa yang akan saya ceritakan dalam artikel ini (semoga saya bisa ngomong dengan baik dan benar sehingga tidak menyinggung siapapun yang berakibat dituntutnya saya dalam undang-undang IT, amien…)

Mengapa memilih jurusan Agronomi dan Hortikultura???

kenapa yah???

dari awal aja dulu kali yee…

mulai dari kenapa saya memilih IPB. Saya mah sebenernya emang pengen banget masuk IPB, dari kecil malah. Pkoknya kalau ditanya mau kuliah dimana pasti jawabnya di Bogor, trus kalau ditanya cita-citanya apa, jawabannya pengen jadi guru… hha, emang dulu masih culun punya, kagak tau kalau di IPB tuh ngga ada jurusan FKIP (karena yang ada tuh FPIK).  Mengenai kenapa pilihan saya  jatuh padaFakultas Pertanian tepatnya di departemen Agronomi dan Hortikultura memiliki sejarah yang panjang sangat, sodara…Berhubung si Babeh juga alumni Faperta, yaaa buah duren jatuh kagak jauh dari pohonnya lah yah (kecuali dibawa lari maling) alhasil  atas pertimbangan dari orang tua saya juga, dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim…saya menuliskan Agronomi dan Hortikultura sebagai prodi pertama saya (dan dengan sombong dan dudulnya menulis Agribisnis sebagai prodi kedua, hhe). Tapi ngga apa-apa, saya bahagia di departemen in yaaahh setidaknya akan membuat  “tangan saya dingin”…(semoga).

Pengennya sii, ntar kalau udah lulus pengen punya perkebunan. Keren kali yak… Awalnya pengen punya kebun sawit, tapi ntar silaturrahmi sama temen sekamar (yang notabene anak Fahutan) terancam putus nih, hhu…

yah, doa’in aja semoga dipilihkan yang terbaik  oleh ALLAH…

The last but not least (bner ngga nii tulisan??? maap2 aja yak klu salah).

AGH…. FEED THE WORLD!!!

<div class=”main_feedback”>

<a href=”http://agrohort.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=190%3Aselamat-datang-di-departemen-agronomi-dan-hortikultura-ipb&catid=1%3Aberita-terkini&Itemid=138&lang=in”>Departemen Agronomi dan Hortikultura</a>

</div>

<div class=”main_feedback”>

<a href=”http://www.yasni.com/ext.php?url=http%3A%2F%2Fusaha-umkm.blog.com%2Fpola-pembiayaan-umkm%2Fbudidaya-tanaman-pangan-dan-hortikultura%2F&cat=filter”>Budidaya Tanaman Pangan dan Hortikultura</a>

</div>

<div class=”main_feedback”>

<a href=”http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNADL249.pdf”>Panduan Budidaya Tanaman Sayuran</a>

</div>

<div class=”main_feedback”>

<a href=”http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://ditjenbun.deptan.go.id/budtanan/images/kelapa%20sawit.pdf”>Budidaya Tanaman Kelapa Sawit</a>

</div>

Comments (2)

i luv jepara

SeJaRah mAsJid & mAkaM


Masjid dan Makam Mantingan terletak 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara di desa Mantingan kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, sebuah yang menyimpan Peninggalan Kuno Islam dan menjadi salah satu asset wisata sejarah di Jepara, dimana di sana berdiri megah sebuah masjid yang dibangun oleh seorang Islamik yaitu PANGERAN HADIRI suami Ratu Kalinyamat yang dijadikan sebagai pusat aktivitas penyebaran agama islam di pesisir utara pulau Jawa dan merupakan masjid kedua setelah masjid Agung Demak. Perlu diketahui juga bahwa di desa Mantingan mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam dengan mata penghasilan dari usaha ukir-ukiran. Lokasi Masjid dan Makam Mantingan berdiri dalam satu komplek yang mudah dijangkau dengan kendaraan umum.

SEJARAH DAN LEGENDA

Diatas telah disebutkan bahwa Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah masjid agung Demak, yang dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 Masehi berdasarkan petunjuk dari condo sengkolo yang terukir pada sebuah mihrab Masjid Mantingan berbunyi “RUPO BRAHMANA WANASARI” gate of  mantingan mosqueoleh R. Muhayat Syeh Sultan Aceh yang bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ketanah suci dan negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah, dan karena kemampuan dan kepandaiannya pindah ke tanah Jawa (Jepara) R. Toyib kawin dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) putri Sultan Trenggono Sultan kerajaan Demak, yang akhirnya beliau mendapak gelar “SULTAN HADIRI” dan sekaligus dinobatkan sebagai Adipati Jepara (Penguasa Jepara) sampai wafat dan dimakamkan di Mantingan Jepara.
Dimakam inilah Pangeran Hadiri (Sunan Mantingan), Ratu Kalinyamat, Patih Sungging Badarduwung seorang patih keturunan cina yang menjadi kerabat beliau Sultan Hadiri bernama CIE GWI GWAN dan sahabat lainnya disemayankan.
Makam yang selalu ramai dikunjungi pada saat “KHOOL” untuk memperingati wafatnya Sunan Mantingan berikut upacara “ GANTI LUWUR “ (Ganti Kelambu) ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 17 Robiul Awal sehari sebelum peringatan Hari Jadi Jepara.
Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Pohon pace yanggate of  mantingan   gravetumbuh disekitar makam, konon bagi Ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum di karunia putra diharapkan sering berziarah ke Makam Mantingan dan mengambil buah pace yang jatuh untuk dibuat rujak kemudian dimakan bersama suami istri, maka permohonannya insyaAllah akan terkabulkan.
Tuah lain yang ada dalam cungkup makam mantingan adalah “AIR MANTINGAN atau AIR KERAMAT” yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah, biasanya bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya air keramat ini digunakan bila sedang menghadapi suatu sengketa, dengan cara air keramat ini diberi mantra dan doa lalu di minum. Tapi ini hanyalah sebuah kepercayaan, Anda boleh percaya atau tidak.

sEjaRah SingKat

Dikisahkan ada seorang jejaka yang berasal dari desa Tunahan menjalin cinta dengan seorang gadis cantik asal Dukuh Sumanding Desa Bucu Kecamatan Kembang. Jalinan cinta mereka ahirnya berlanjut hingga ke jenjang perkawinan. Di sini diceritakan bahwa antara desa Tunahan dan desa Bucu terbentang sungai (sekarang ini sungai yang berada di atas obyek wisata tersebut airnya mengalir ke bawah menjadi air terjun). Pada zaman dahulu seorang laki-laki melamar seorang perempuan harus membawa perabotan dapur seperti wajan, piring, gelas, dll. Serta membawa hewan piaraan kerbau, sapi, kambing,dll.
Pada suatu fajar si isteri bersiap menyiapkan makanan pagi untuk si suami tercinta. Dalam penyediaan sarapan tersebut si isteri kurang hati-hati sehingga menimbulkan suara-suara alat dapur yang saling bersentuhan.
Alkisah, sang mertua (ibu si isteri) menegur anaknya : “Ojo glondhangan, mengko mundhak bojomu tangi” atau dalam bahasa Indonesia : “Jangan gaduh, nanti suamimu terbangun”. Rupanya si suami salah mendengar “Kerjo kok glondhangan, rumangsamu barange bojomu” atau dalam bahasa Indonesia “Kerja kok gaduh, memangnya barang bawaan suamimu”.
Pada saat itu juga si suami merasa tersinggung dengan perkataan sang mertua itu, kemudian pada suatu tengah malam kedua pengantin tersebut berniat pergi dari rumah untuk pindah ke tempat asal suami dengan mengendarai pedati/gerobak yang ditarikoleh sapi. Oleh karena jalannya begitu gelap, maka pedati yang mereka naiki salah jalan (kesasar) sehingga terasa pedati tersebut masuk jurang yang sangat dalam (sekarang air terjun Songgolangit) dan sepasang pengantin tersebut hilang tidak ada yang mengetahui keberadaanya.
Legenda tersebut bersifat turun temurun dan masih melekat kuat di hati masyarakat setempat sehingga merupakan pantangan antara orang-orang desa Tunahan dan desa Bucu untuk hidup sebagai suami isteri, karena dikuatirkan hubungan rumah tangga mereka akan mengalami kemelut.
Sedangkan dinamakan air terjun Songgolangit, karena dilihat dari bawah maka air terjun tersebut tampak seakan akan menyangga horizon langit (jawa : nyonggo langit).
Konon ceritanya air terjun ini ditunggui oleh sepasang suami isteri yang ikut menjaga kenyamanan para wisatawan yang menikmati keindahan obyek wisata tersebut, karena mereka merasa bahwa pengunjung-pengunjung adalah tamunya yang perlu dihormati dan dijaga keamananya dan kenyamananya.

sePutaR kArtiNi

JEPARA – Jalan-jalan di Kabupaten Jepara semakin dipadati kendaraan. Pada jam-jam sibuk, misalnya pada pagi hari, pada saat sebagian besar warga pergi bekerja dan berangkat ke sekolah, hampir sebagian besar ruas jalan raya diwarnai antrean kendaraan.Kemacetan terjadi pada ruas Jalan Kartini, tepatnya di perempatan PLN ke selatan hingga perempatan Tugu Kartini, Jalan KS Tubun depan Mapolres hingga perempatan jembatan kanal Jepara. Panjang jalan yang hanya sekitar setengah kilometer yang biasa ditempuh kurang dari satu menit itu pada pagi yang sibuk bisa menghabiskan waktu sepuluh menit atau lebih.

Jika pada awal 1990-an di Kabupaten Jepara hanya membutuhkan satu lampu pengatur lalu lintas (traffict light), yakni di dekat jembatan Jalan Pemuda, maka sekarang di dalam kota pun sudah ada beberapa lampu bang jo itu. Bahkan di beberapa ibu kota kecmatan pun dipasang lampu bang jo, misalnya di Bangsri, Gotri (Kalinyamatan), dan Mayong.

Kondisi itu tak lepas dari pertambahan jumlah kendaraan yang sangat pesat, terutama dalam lima tahun terakhir. Bahkan pada tahun ini hingga 24 Desember lalu, pertambahan sepeda motor tercatat 21.841 unit, dan kendaraan roda empat berbagai jenis 1.086 unit. Dengan demikian, rata-rata setiap hari bertambah 61 unit sepeda motor dan 3 mobil. Diperkirakan hingga 31 Desember mendatang pendaftaran sepeda motor mencapai 22.000 unit lebih dan mobil mencapai 1.100 unit.

Comments